Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Bunga dan Kupu-Kupu #End

Kemana lanjutan cerita tentang bunga dan kupu-kupu yang sebelumnya sempet aku posting?

Mungkin ada baiknya jika kisah itu gak akan pernah aku lanjutkan lagi.
Ya, cukup hanya sampai disitu aja.
Karena apa? Karena endingya adalah bukan sesuatu yang menyenangkan.
Semua pasti akan kecewa jika tau bahwa endingnya kupu-kupu dan bunga tidak akan pernah bersatu untuk selamanya.
Jangankan bersatu, untuk bisa melihat pun tidak bisa :)

Kupu-kupu telah mati.
Kupu-kupu sayapnya telah patah, robek, dan hancur.

Bunga telah layu.
Kelopaknya berjatuhan satu per satu dan akhirnya mati kering.

So?
Terlalu tragis bukan?
keduannya sama-sama mati.
keduanya sama-sama hancur.

Dan ketidak menyatuan bunga dan kupu-kupu setidaknya telah menyadarkan semua spesies kupu-kupu, bahwa bunga hanya perlu dihisap madunya, bukan untuk dijadikan partner dalam satu rasa, satu cinta, untuk selamanya.
Karena bagaimanapun, Bunga tercipta bukan untuk kupu-kupu.
Bunga tecipta untuk membuat dunia menjadi indah dan berwarna dalam kesendiriannya.

Rabu, 17 April 2013

Perahu Kertas...

"Cinta itu berani pergi dan berani untuk ditinggalkan."
"Pilihannya cuma 2, pergi atau ditinggalkan?"
"Aku gak mau setiap ketemu kamu 10 tahun lagi 20 tahun lagi, aku ngerasa sakit kayak gini."
"Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya tidak melihat cinta ini ada ujungnya."
"Kamu bikin saya semangat, bikin saya tertawa, bikin saya pingin melakukan banyak hal, bikin saya nyaman."
"Jangan sampai rasa itu mendatangi hati, menyalami, lalu pergi lagi."
"Suara ombak lautan adalah nyanyian yang paling merdu."
"Aku hilang di keramaian malam.. lalu kamu menemukanku duduk bersama ombak."
"Terlalu sulit bagiku untuk bisa berhenti memikirkanmu, karena hanya bersama kamu segalanya terasa dekat, segala sesuatu terasa indah."


~Perahu Kertas

Selasa, 02 April 2013

Bunga dan Kupu-kupu #part4

KUPU-KUPU
Pagi ini diawali dengan hal yang mengejutkan. Ketika aku datang berkunjung ke tempat Nona Bunga yang tumbuh sendirian itu, semua bunga di dahan-dahan yang kemarin mekar kini layu. Kelopak-kelopak mereka merunduk, membentuk rupa burung berwarna putih, yang disebut manusia sebagai rupa merpati. Dengan panik aku menghampiri Nona Bunga untuk memberi tahu apa yang terjadi pada teman-temannya. Tapi sembari tertawa, ia mengatakan bahwa itulah hal yang lazim terjadi pada bunga sejenis mereka—Anggrek Merpati, begitu manusia menyebutnya—hanya mekar untuk jangka waktu satu hari.
“Sedih sekali,” kataku berduka, “Kalau begitu aku akan melihatmu mati setelah akhirnya bisa mencicipi nektar pertamamu.”
“Jangan berkata begitu,” sahut sang Bunga, “Kami melakukannya dengan baik sekali. Biasanya kuntum kami mekar serentak, seperti yang kau lihat kemarin, dan itu pemandangan yang indah, bukan? Tak hanya itu, wangi bunga kami pun masih dapat kau cium sampai hari ke-3. Itu persembahan terbaik sepanjang hidup kami.”
Aku hanya berputar-putar lesu. Melihat tingkahku, malah sang Bunga yang berbalik prihatin padaku.
“Tenang saja, Tuan Kupu-kupu. Bunga jenis kami akan berkuncup dan mekar lagi sekitar satu musim dari sekarang. Itu sekitar 3 bulan lagi,”ujarnya berusaha menghibur. Tapi jujur saja, aku sama sekali tidak terhibur. Aku tahu hidupku tidak selama itu.

BUNGA
Pagi ini Tuan Kupu-kupu datang dengan panik untuk mengabari mengenai layunya teman-temanku. Aku hanya bisa tertawa melihat gaya terbangnya yang menunjukkan kecemasan. Aku menjelaskan bahwa itu hal yang lazim terjadi di antara kami. Ia terlihat lesu dan berduka. Maka aku mencoba menghibur dengan berkata bahwa kami akan mekar lagi sekitar 3 bulan setelah layu. Tapi nampaknya, usaha menghiburku malah membuatnya semakin muram. Apa aku sudah salah bicara?
Sekarang, semakin hari Tuan Kupu-kupu semakin lesu. Caranya terbang sudah tidak lincah seperti dulu. Rasanya untuk mengangkat tubuhnya dari tanah pun malas. Jangan-jangan ia sakit? Atau sedang ada masalah lain? Ah, sedih sekali aku tidak bisa mengembalikan keceriaannya.
Sebetulnya banyak hal yang ingin kutanyakan, namun belakangan ini dia bukan hanya semakin lesu, tapi juga semakin jarang bicara. Aku ingin sekali segera mekar untuk menghiburnya.

KUPU-KUPU
Nona Bunga pasti menyadari perubahan sikapku yang semakin tidak bersemangat dan jarang bicara—ia selalu menatap khawatir setiap kali aku datang. Ini semua terjadi sejak saat itu : ketika aku mengetahui usia mekarnya yang hanya satu hari, dan baru mekar lagi 3 bulan kemudian. Yang benar saja, masa aku harus melihatnya mati setelah mencicipi nektarnya? Bagaimana kalau dia tak usah mekar saja? Tidak masalah bagiku kalau tidak mendapat nektar darinya. Yang kuinginkan dia, bukan nektarnya. Aku ingin berkata begitu, tapi rasanya akal sehatku tidak setuju kalau aku melarangnya mekar. Mekar dengan baik kan impian utamanya? Ada yang hilang dari hubungan kami yang awalnya sempurna.
Masih ada lagi yang lebih kutakutkan. Kemungkinan kalau aku akan lebih dulu meninggalkannya sebelum dia meninggalkanku. Maksudku, kalau aku sudah mati bahkan sebelum dia berkembang. Aku sudah tahu dari semasa ulat bahwa hidupku memang tak lama. Tapi, kalau soal ‘ada banyak predator di luar sana yang bisa memperpendek umurmu menjadi setengah dari yang seharusnya’, nah, itu aku baru tahu.

BUNGA
Keadaan semakin parah akhir-akhir ini. Kami bahkan tidak bicara lebih dari 5 kalimat dalam satu hari. Ia hanya datang, menyapa, kemudian mencari nektar, kembali, berpamitan, dan pergi. Aku tidak merasa mengatakan sesuatu yang salah. Aku bahkan menghiburnya dengan berkata ‘Rasanya ingin cepat mekar agar kau bisa segera mencicipi nektarku.’ Tapi itu tidak memperbaiki keadaan. Malah memperburuk, kelihatannya. Mulai beberapa hari yang lalu, ia bahkan sudah tidak mengunjungiku lagi. Ah, mungkin sebenarnya dia tidak seantusias kusangka untuk menghisap nektarku.
Dan lagi, sepertinya cuaca amat mendukung keterpurukan hubungan ini. Dalam beberapa jam cerah bisa berganti hujan lebat atau sebaliknya, seakan sedang membalas dendam. Beberapa hari terakhir seperti itu. Memangnya matahari dan awan juga sedang tidak akur?

KUPU-KUPU
Rasanya Nona Bunga ingin menambah beban pikiranku setiap kali bertemu. Ia selalu menggumamkan keinginan mekarnya. Kebersamaan kami mungkin hanyalah sebuah pengisi waktu luang baginya. Akhirnya aku hanya bisa menghindari pembicaraan dengannya agar tidak terus-menerus ingat soal hari kematian Nona Bunga maupun hari kematianku.Huuh.. hujan turun lebat setiap hari belakangan ini. Aku khawatir dengan keadaan Nona Bunga yang sendirian di tengah hujan. Aku selalu ingin mengunjunginya, tapi apa yang dapat kulakukan? Aku ini binatang yang punya kekurangan tidak bisa terbang di saat hujan.

BUNGA
Ada yang terasa aneh dengan badanku semalaman. Amat tidak nyaman. Kalau semalam turun hujan juga, aku pasti sudah mengeluh sepanjang hari. Untung saja cerah dan bintang-bintang terlihat, jadi rasanya sedikit terhibur. Tapi coba tebak apa yang terjadi padaku pagi ini? Kelopakku mulai membuka! Aku mekar! Aku mekar, akhirnya! Lihat, lihat helai-helai mahkotaku yang putih bersih! Aku memandang hamparan warna putih di dahan-dahan pohon sepanjang jalan. Kami yang tadinya berupa kuncup sudah mekar secara serempak! Bunga-bunga yang mekar lebih dulu saat kami masih kuncup mengucapkan selamat. Ini lebih cepat dari seharusnya, kata bunga yang tepat di atasku. Perubahan suhu selalu berpengaruh, bunga di dahan yang lebih tinggi menimpali. Begitu rupanya. Kami mekar lebih cepat karena suhu berubah-ubah beberapa hari ini. Hujan, panas, hujan, panas. Oh, terima kasih matahari dan awan! Aku ingin segera menunjukkannya pada Tuan Kupu-kupu. Aku benar-benar berharap dia datang hari ini. Paling tidak, untuk hari ini saja.



>>> Bersambung

Senin, 01 April 2013

Bunga dan Kupu-Kupu #Part3

KUPU-KUPU
Badanku terbang menjauh dari taman, membelok melewati banyak pohon dan manusia, mengikuti indra penciumanku yang sudah kuyakini kelihaiannya bahkan sebelum aku keluar dari pupa kecil-hangat itu. Belum terlalu lama aku terbang, aku sudah mendapat pembuktian pertama bahwa indraku tak mungkin salah. Tak jauh di depan, nampak pohon-pohon berdaun lebat di sepanjang jalan. Tapi bukan itu yang jadi tujuanku. Di pohon-pohon itu, banyak menempel bunga-bunga putih yang bergerombol. Nah, lihat! Indraku memang patut dipercayai.

BUNGA
Aku menatap gerombolan anggrek lain yang menempel di cabang pohon angsana di atasku. Ah, betapa senangnya tumbuh di atas sana. Punya banyak teman dan bisa lebih lagi mendapatkan sinar matahari. Tapi yang paling kuinginkan hanya teman. Padahal dalam satu tangkai, biasanya muncul tiga kuncup anggrek sejenisku. Tapi, hanya aku satu-satunya kuncup yang muncul. Kapan kiranya aku bisa mendapat teman untuk tumbuh bersamaku di retakan trotoar ini? Mungkin aku harus bersabar dan menunggu.

KUPU-KUPU
Sayapku mengepak senang ketika terbang mengitari gerombolan bunga-bunga kecil yang cantik dan manis. Sayang, tidak semua dari mereka yang di sana telah berbunga. Padahal, aku ingin meminta sedikit nektar. Dan sebagai gantinya akan kubantu penyerbukan mereka. Tapi tak apa. Mungkin mereka akan berbunga sebentar lagi, mengikuti bunga-bunga yang lainnya.
Sekarang, persoalannya, aku mulai lapar. Jadi ada baiknya aku mencari sedikit nektar untuk makanan. Pertama-tama, siapa yang sebaiknya kuminta? Aku terbang mengitari sepanjang jalan, mencari bunga yang paling menarik perhatianku. Dan..ah! Ada sebuah bunga yang tumbuh sendirian, di sela-sela batu buatan manusia. Ada apa gerangan? Apakah ia terpisah dari kawanannya? Dipenuhi rasa ingin tahu, aku pun terbang mendekat.

BUNGA
Seekor kupu-kupu yang terbang melintas melunturkan lamunanku. Betapa lincah gerakannya! Dan betapa indah warna sayapnya! Sayap putih-hitam dengan warna kuning di beberapa tempat. Apa yang sedang dilakukannya di sini? Oh.. aku mendengar pikiranku bertanya hal yang bodoh. Tentu saja ia sedang mencari nektar. Banyak bunga sejenisku yang sudah mekar di pohon-pohon. Wangi manis itu yang pasti memancing sang kupu-kupu.
Hei, tunggu, kenapa ia terbang kemari? Bunga mana yang ditujunya? Semestinya bukan aku. Aku baru berkuncup. Tidak mungkin memberikannya nektar. Anehnya, ia terbang semakin dekat..semakin dekat..semakin dekat..mungkin tidak, ia tidak ingin meminta nektar dariku. Tapi ya, ia memang terbang untuk menghampiriku.

KUPU-KUPU
Sang Kuncup Bunga nampak malu-malu saat aku menghampirinya. Aku terbang rendah mengitari untuk menyapa dan sedikit bertanya-tanya. Aku baru tahu, ternyata ia baru berkuncup dan belum berkembang. Aku juga baru tahu, masih butuh 2 minggu lagi sampai ia akan mekar. Kalau begitu, aku belum bisa menghisap nektar darinya. Tapi, ia sudah berjanji akan memberikan nektar pertamanya kalau ia mekar nanti. Tentu saja, dengan senang hati akan kutunggu saat itu. Dan sampai saat itu tiba, aku akan datang mengunjunginya setiap hari. Gambaran hubungan kami nampaknya sempurna.

BUNGA
Sang Kupu-kupu ternyata makhluk yang amat ramah. Ia menyapaku dengan sopan dan mengajakku berbicara. Senang rasanya punya teman untuk berbicara—terutama jika kau selalu hidup jauh dari gerombolan. Aku sudah berjanji padanya untuk memberikan nektar pertamaku setelah mekar. Meski itu berarti ia harus menunggu cukup lama, namun nampaknya ia senang melakukannya. Tak terasa, waktu satu hari habis begitu saja saat aku bersama dengannya. Malam datang, kemudian pagi menjelang.


>> Bersambung...

Jumat, 22 Februari 2013

Bunga dan Kupu-Kupu #part2

KUPU-KUPU
Sudah lama aku mendambakan untuk bisa memeluk langit seperti ini. Masa-masa ketika aku hanya seekor binatang penuh bulu yang berukuran tak lebih besar dari ranting pohon cemara nampak mulai memudar dalam ingatan. Kini aku bebas menjelajahi udara lepas—dan berada sedikit lebih dekat dengan awan daripada yang biasanya bisa kulakukan. Betapa bahagianya! Sekarang aku bisa menentukan sendiri ke mana aku akan pergi. Dengan sayap-sayap putih-hitam dengan aksen kuning ini, hanya masalah kecil untuk terbang keluar dari tempat yang sudah kutinggali sepanjang hidupku-sebuah taman kecil di tengah kota besar. Dan tentu saja ini saat yang tepat untuk belajar menggunakan antena penciumanku. Aku tinggal menunggu, ke mana indra penciuman ini akan membawaku.


BUNGA
Sudah lama aku mendambakan untuk bisa merasakan hangatnya sinar mentari. Masa-masa ketika aku terbenam di dalam tempat gelap itu nampak mulai memudar dalam ingatan. Kini aku bebas menampung sinar matahari sebanyak-banyaknya, dan berada sedikit lebih dekat dengan cahaya daripada yang biasanya bisa kulakukan. Betapa bahagianya! Sekarang aku bisa terus bertemu sang mentari sampai mekar dengan indah. Dan tentu saja ini saat yang tepat untuk belajar menghasilkan nektar pertamaku. Aku tinggal menunggu, bagaimana ragaku akan mulai bertumbuh.

Rabu, 28 November 2012

bunga dan kupu-kupu #part1

KUPU-KUPU Aku belum pernah memandang dunia dengan cara seperti ini. Sebelumnya duniaku hanya sebesar pohon Akasia di sudut taman itu. Tempat di mana aku menggantung kehidupan kecilku pada daun-daun muda berwarna hijau tua, yang menjadi gambaran penuh akan arti sebuah “dunia” bagiku. Namun segala sesuatu berubah. Begitu juga denganku, saat kusadari ternyata bunga lebih manis dari yang terlihat. Dan saat kuketahui daun tidaklah seenak yang kuingat. Rasanya, setiap hal ber-revolusi menjadi perkembangan baru dalam hidupku. Entah kenapa.

BUNGA Aku belum pernah memandang dunia dengan cara seperti ini. Sebelumnya tak ada sedikit pun bagian diriku yang tahu di mana tepatnya posisiku. Di sebuah tempat gelap yang dingin, yang menjadi gambaran penuh akan arti sebuah “dunia” bagiku. Namun segala sesuatu berubah. Begitu juga denganku, saat kusadari hangatnya sinar mentari lebih menyenangkan dibanding mimpi-mimpi semuku. Dan saat kuketahui tetes air tak sebegitu mudah ditemukan seperti dalam khayalku. Rasanya, setiap hal ber-revolusi menjadi perkembangan baru dalam hidupku. Entah kenapa

>> bersambung..

Sabtu, 18 Februari 2012

sebuah kutipan...

Malam semakin larut dan akupun masih tetap terhanyut dalam pikiranku. Lagu kenangan itu... masih mengalun dengan indahnya tanpa henti dari laptop yang memang sudah menyala dari tadi pagi. Jalanan sudah mulai sepi, bahkan sudah tidak ada satupun orang yang melewati jalan depan rumahku ini. Kulihat jam di atas meja belajarku telah menunjukkan pukul 01.15, tak terasa sudah hampir dua jam aku duduk termenung di tepian jendela kamar ini.

Angin berhembus pelan menerpa wajahku yang masih basah oleh tetesan air mata yang entah mengapa terus keluar dari kedua mataku. Ku pejamkan mataku, dan kusandarkan kepalaku di pinggiran jendela yg dari tadi setia menjadi tempatku meluapkan segala kepenatan ini. Entah sudah berapa lembar tissue yang kuhabiskan untuk menyeka tetesan air mata yang keluar begitu saja dari kedua pelupuk mataku. Aku sudah tidak tahu kepada siapa aku membagi semua rasa ini. Kesedihan, kebimbangan, dan kehilangan.. semua bercampur menjadi satu.

Malam ini langit begitu cerah, bintang-bintang bertebaran menghiasi gelapnya langit malam, dan bulannya pun juga bulat sempurna. Pemandangan seperti ini membawa ingatanku kembali pada saat itu, dimana aku dan Raka duduk berdua beratapkan langit malam yg indah, seindah malam ini. Saat itulah, saat pertama kali ia menggenggam jemari tanganku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia tersenyum, dan akupun tersenyum. Semua begitu indah. Namun aku sadar, kini semua itu hanyalah tinggal kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan.

Raka. Satu nama yang terukir dengan indah di hatiku. Dia selalu membuatku tertawa dengan tingkahnya yang selalu ceria. Di yang memberi warna hidupku dikala warna di hidupku hanya ada hitam dan putih. Sungguh tak pernah terbayangkan olehku akan kehilangan sosok seindah dia dengan cara seperti ini. Bisakah kalian bayangkan bagaimana rasanya harus berpisah dengan orang yang kalian sayangi meskipun perpisahan itu bukanlah atas kehendak kalian?? Tapi keadaan lah yang memaksa kalian untuk berpisah dan mengakhiri segalanya. Begitu sakit, begitu terluka.... itulah yang sekarang aku rasakan. Memang semua salahku, dan aku sadari itu. Jika saja waktu itu aku bisa tegas dalam mengambil keputusan, pasti hal ini tidak akan pernah terjadi. Tapi penyesalan ini juga tidak akan pernah membuat Raka kembali kesisiku lagi......

(bersambung)

Senin, 25 Juli 2011

2cinta 1hati

Dua Cinta Satu Hati

“Sebaiknya kita ahiri sampai disini saja....”
“Apa????” tanya Raka gak ngerti.
“Hubungan kita Ka... semua yang kita jalani itu salah... lebih baik kita akhiri saja..” ujarku menundukkan kepala.
“Kenapa Kay?? Kenapa kamu bilang kayak gitu???” Raka terlihat kaget mendengarkan peryataanku. Sejurus dia mendekatkan kursinya ke kursiku. Matanya menatapku tajam.
“Kamu masih tanya kenapa Ka??? Apa yang kita lakukan selama ini itu salah... kita menjalani hubungan ini adalah sebuah kesalahan besar Ka... kita... cinta kita.... cinta diantara kita itu....” ucapanku terbata dan terputus.
“Apa?? Ada apa dengan cinta diantara kita??? Terlarang? Itu yang ingin kamu bilang??? Cinta kita itu terlarang.. begitu???”
Aku terdiam... Kutatap piring makanan dihadapanku yang telah kosong.
2 bulan yang lalu...
Aku berkenalan dengan seorang cowok yang telah menemukan dompetku yang kebetulan terjatuh di kost temenku satu kelas, Fery. Cowok itu adalah Raka.
“Sori permisi.. kamu Kay??” tanya Raka waktu itu saat aku baru aja mau pulang kuliah.
Aku heran mengapa dia mengenaliku. Darimana dia tahu aku ini adalah Kay?
“Kamu siapa???” tanyaku judes.
dia tersenyum manis sekali.
“Aku Raka... aku mau ngembaliin ini.” Lalu dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Ini punya kamu kan???” Raka menyodorkan dompet hitam itu kepadaku.
“oh...” aku kaget dan langsung merebut dompet itu dari tangannya.
“Kok bisa di kamu???” tanyaku heran. Mataku menatapnya penuh kecurigaan.
“iyah.. aku liat dompet itu terjatuh di depan kamar kostku. Waktu aku buka, ada KTM kamu, waktu aku lihat kebetulan kampus kita sama, tapi jurusan kita berbeda. Dan ternyata jurusan kamu sama dengan jurusan temenku satu kost. Waktu aku tanyain ke dia, ternyata dia temen sekelas kamu. Hmmm kamu kenal Fery kan??? Dia temen kostku yang aku maksud.” Begitu penjelasan Raka waktu itu.
“oh gitu.. makasih ya??” Aku tersenyum garing.
Itulah awal perkenalanku dengan Raka. Sejak saat itu dia sering datang ke jurusanku, alasannya sih pengen ketemu sama Fery, padahal dia pengen lihat aku dan dekat sama aku. Dia selalu sms aku buat sekedar menanyakan aku lagi ngapain? Aku juga heran darimana dia mendapatkan no hp ku. Ternyata dia telah diam-diam mencuri no hpku dari hp Fery saat Fery lagi mandi.
Awalnya aku gak pernah respon sms dari dia. Sampai saat malam itu tiba...
Waktu itu aku kebagian siaran malem di radio kampus. Malem itu jadwalku siaran bersama Angga. Karena udah larut malam Angga tidur di studio, kebetulan waktu itu Angga lagi gak enak badan, sedangkan aku gak mungkin tidur juga di studio. Kalo aku gak pulang ke kost malem ini, temen sekamarku bakal ngomel habis-habisan, soalnya kita udah janji mau nonton dvd semaleman sampe pagi. Di studio juga udah sepi dan gak ada yang bisa nganterin aku pulang ke kost. Akhirnya terpaksa aku jalan kaki ke kost. Jarak studio radio kampuku dengan kostku lumayan jauh. Kira-kira 500m lah.
Dalam perjalanan pulang aku merasa ada yang mengikutiku di belakangku. Tapi disaat aku menolehkan kepalaku kebelakang, aku tidak melihat apapun. Hatiku berdebar membayangkan hantu mengikutiku dan mengintaiku seperti yang ada di sinetron-sinetron kebanyakan. Aku mempercepat langkahku dan tiba2 seseorang menghadang jalanku dari depan. Laki-laki bertubuh besar. Aku tidak bisa melihat wajahnya secara jelas karena penerangan di jalan waktu itu tidak terlalu terang. Laki-laki itu mendekatiku perlahan. Aku ketakutan setengah mati. Aku berjalan mundur seiring dengan langkah kaki orang itu saat mendekatiku. Tapi dia dengan cepat menangkapku, dia menarik tanganku dengan kuat. Dia mengancam akan menyiksaku bila tidak memberinya uang dan barang-barang berharga yang aku punya. Sumpah waktu itu suasana sangat mencekam, dalam hati aku berdoa dan berharap semoga ada orang yang menolongku. Sementara aku gak bisa bergerak berada di dekapan laki-laki itu. Laki-laki itu mencengkeramku sangat kuat hingga sakitnya terasa menembus tulangku.
Aku menangis, memanggil nama Adit dalam hati.
Tiba-tiba seseorang menendang keras tubuh laki-laki itu dari samping hingga laki laki itu jatuh terpelanting dan aku hampir terbawa jatuh bersama laki-laki itu, tetapi tangan seseorang itu telah menangkapku dulu sehingga aku tidak sampai terjatuh. Laki-laki itu berdiri sempoyongan dan menghampiri seseorang yang telah menyelamatkanku tadi.. dia mengepelkan tangannya dan melayangkan tinju ke wajah orang yang telah menyelamatkanku. Hebatnya, dia bisa menghindar dari serangan laki-laki itu dan dia balik menyerang laki-laki itu dengan pukulan-pukulan yang sangat hebat. Kemudian orang yang telah menyelamatkanku tadi membawaku lari menghindar dari laki-laki yang tadi telah mengancamku. Karena penerangan yang kurang baik, aku masih belum bisa mengenali wajah orang yang membawaku pergi dari ancaman laki-laki tadi. Setelah jauh berlari menjauh dari laki-laki tadi akhirnya sampailah aku dan orang itu di pos satpam yang memiliki penerangan yang cukup baik, dan disitulah aku tahu siapa orang yang telah menyelamatkanku.
“Raka??” tanyaku Shock.
“kamu kenapa bisa jalan sendiri di tempat sepi gini sih??? Bahaya tau??” kata Raka melotot.
“Lhoh?? Kok marah sih?? Ini kan masih komplek kampus, jadi aku gak khawatir dong dengan keamanan disini. Lagian siapa yang ngira bakal ada kejadian yang kayak tadi?? Semua itu diluar dugaan.” Belaku.
“hassssh.. kamu tuh! Kenapa gak minta anter pulang temen sih?? Ato minta jemput gitu?? Ini udah jam 11 malem. Kamu itu cewek, jalan sendiri di tempat sepi dan gelap kayak gitu, emang kamu gak takut? Coba tadi aku telat sedikit... aku gak bisa bayangin hal apa yang bakal terjadi ma kamu.”
Aku hanya bisa dia menatapnya heran.
“kenapa diam???”
“Bawel banget yah kamu tuh??? Lagian ngapain kamu pake acara marah-marah gitu ke aku?? Kenal deket juga gak! Issssh....” Ucapku sinis lalu berlalu meninggalkannya.
“Hei!! Mau kemana kamu?” ujarnya sambil mengejarku.
Langkahku terhenti.
“Ya pulanglah... masak mau tidur disini??? Kenapa???” jawabku judes.
“Hsssshh... dasar gak tau terima kasih!” kata Raka sangat pelan. Tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Apa??? Kamu bilang apa??? Gak tau terima kasih???”
Raka tampak kebingungan dan panik mendengar pertanyaanku.
“oke oke... THANKS!! Udah ngembaliin dompetku waktu itu dan udah nyelametin aku dari ancaman laki-laki tadi. Puas??” ujarku lalu berlalu pergi.
Lagi-lagi dia mengejarku dan menghentikan langkahku.
“hebat!” katanya.
Kukerutkan keningku. Aku gak mengerti dengan perkataannya.
“setelah kejadian tadi kamu masih berani jalan sendiri malem-malem gini??”
Aku diam saja.
“ikut aku! Aku anter kamu pulang.” Ujarnya menarik tanganku.
Dan malam itu dia membawaku ke tempat parkir gedung kuliah bersama yang tidak jauh dari lokasi itu. Dia mengambil motornya dan mengantarku pulang sampai di kost dengan selamat.
“makasih ya??” ucapku singkat setelah turun dari motor Raka.
Raka tersenyum.
“Makanya laen kali gak usah deh sok-sok jadi pemberani kayak gitu..”
“Hassssh... lagian kamu kok bisa sih ada di kampus malem-malem gini? Kebetulan sekali..” tanyaku padanya.
“iyah, kebetulan 1 minggu lagi ada turnamen basket. Jadi tadi aku iseng-iseng maen basket sendiri itung-itung latihan. Trus pas aku mau pulang, aku lihat ada bayangan-bayangan aneh dengan suara berisik di balik gedung HMJ Seni, waktu aku lihat ternyata kamu... kebetulan sekali bukan???”
Aku ingat sekarang. Lokasi kejadian tadi memang letaknya gak jauh dari lapangan basket. Hanya sela 2 gedung saja.
“Kamu pasti shock... lebih baik cepat masuk dan cepat tidur...” dia tersenyum manis sekali.
“gak usah kamu suruh aku juga udah tau apa yang harus aku lakukan.” Jawabku ketus lalu masuk dalam kost.
Awalnya hubunganku dengan Raka emang gak begitu baik. Aku selalu saja bersikap judes, jutek dan cuek padanya. Tapi meskipun begitu, dia seperti pantang menyerah untuk mendekatiku. Dia gak pernah absen untuk mengirimiku sms-sms gak penting. Sampai pada akhirnya masalah itu datang. Masalah yang terjadi antara aku dan Adit, cowokku.
Aku dan Adit telah lama pacaran, kurang lebih sudah hampir 7 tahun, sejak aku duduk di bangku SMP. Mungkin karena terlalu lama menjalin hubungan, rasa jenuh itu datang. Ditambah lagi dengan masalah Adit yang telah berubah sikapnya terhadapku. Semenjak dia masuk dapur rekaman dan mulai promo albumnya ke berbagai kota, dia mulai jarang memperhatikanku. Dia selalu sibuk dengan urusannya dan kita menjadi jarang sekali bisa menghabiskan waktu bersama. Sering terjadi perselisihan antara aku dan Adit. Aku yang membutuhkan dia dan dia yang tak pernah ada waktuuntukku. Dan aku mulai lelah dengan keadaan yang seperti itu.
Dalam keadaan seperti itulah Raka datang kepadaku. Dia rela meminjamkan bahunya untukku bersandar dan melepaskan semua rasa lelah yang kuhadapi. Dengan sabarnya dia mendengarkan semua ceritaku dari awal sampai akhir, meski menurutku ceritaku itu sangat panjang dan gak ada habisnya. Dia rela menjadi sapu tanganku untuk menghapus air mata yang keluar dari kedua pelupuk mataku. Dan hal-hal seperti itulah yang membuatku menjadi respect sama Raka. Dan sejak saat itulah hubungan kita semakin baik.
Semakin lama, hubunganku dengan Raka semakin dekat. Dia semakin sering datang ke jurusanku untuk mengunjungiku. Dia sering sekali datang ke kostku dengan membawa sekeranjang buah ataupun sekantong makanan ringan kesukaanku. Dan dia sering mengajakku untuk melakukan hal-hal seru yang sebelumnya belum pernah aku lakukan bersama Adit, seperti memancing, berjalan-jalan di kebun buah, mengayuh sepeda air di danau, dan masih banyak lagi. Aku dan Raka semakin sering menghabiskan waktu bersama.
Sementara Adit, dia semakin jarang memperhatikanku. Padahal dalam hati kecilku aku ingin sekali diperhatikan oleh adit seperti dulu lagi. Ingin sekali bisa menghabiskan waktu bersamanya seperti sebelum dia masuk kedalam dapur rekaman. Sebenarnya aku sangat merindukan masa-masa seperti dulu lagi.. Seperti tahun-tahun awal aku jadian ma Adit. Dia sangat begitu perhatian kepadaku, romantis, dan penuh dengan kejutan-kejutan yang membuatku semakin sayang padanya.
Sebenarnya aku tahu bukan maksud Adit untuk membiarkanku merasa sepi seperti ini. Aku tahu inilah impian Adit dari dulu, menjadi seorang pemain band yang sukses dan dikenal oleh banyak orang. Dan aku tahu, menjadi seorang yang dikenal dan banyak melakukan hal-hal yang menyita waktu seperti sekarang membuat Adit tidak mempunyai banyak waktu untukku. Jangankan untukku, untuk dirinya sendiri saja aku tahu dia harus pintar mengatur waktu. Rekaman, off air di berbagai stasiun radio di kota-kota besar, promo album di berbagai daerah, menjadi bintang tamu di berbagai acara talkshow, mengisi acara-acara musik yang telah menjamur di televisi-televisi swasta, dan banyak lagi yang lain. Dengan jadwal yang seperti itu bagaimana bisa dia beristirahat dengan tenang??
“jangan khawatir Kay.. meski aku sibuk seperti ini aku selalu mengingatmu. Percayalah hanya kamu satu-satunya yang ada di hatiku. Aku sayang sama kamu dan gak akan ada satupun yang bisa menggantikan posisimu dihatiku” begitulah kata-kata Adit yang aku ingat sampai sekarang saat dia akan pergi ke Ibu Kota. Dan sampai sekarang pun aku masih percaya kepadanya.
“Maafkan aku Kay karena kita gak bisa seperti dulu lagi. Tapi apa yang aku lakukan sekarang adalah untuk kebaikan kita nantinya, untuk masa depan kita berdua. Aku ingin sekali hidup bersama kamu selamanya.....” kata-kata itu selalu terngiang di telingaku.
Adit memang cowok yang baik. Aku akuin dia memang sangat setia dan tidak pernah membuatku kecewa sedikitpun. Sampai detik ini, belum pernah sekalipun dia membuatku menangis dan menyakiti hatiku gara-gara adanya cewek lain. Dia sabar dan sangat mengerti diriku. Tapi... dengan keadaan sekarang ini rasanya aku sangat lelah dengan semua ini.
Dan saat itu aku dan Raka sedang terjebak hujan lebat saat akan pulang kuliah, dan terpaksa aku dan Raka harus berteduh dulu di emperan toko kue. Sambil menunggu hujan reda itu, dia mulai bercerita tentang dirinya...
“Kay, sebenarnya aku juga udah punya cewek lagi... namanya Nessa. Baru 5 bulan, tapi rasanya aku udah gak tahan dengan sikapnya terhadapku.” Ujar Raka saat itu.
“Oh yah?? Kenapa dia???”
“Dia gak pernah mau mengerti tentang diriku. Dia selalu egois dan ingin selalu menang. Dia selalu curiga padaku dan selalu cemburu terhadap teman-temanku. Kamu tahu gak Kay? Bahkan dengan basket pun dia cemburu, apa-apaan coba?? Dia kan tahu aku ini atlet basket di kampus kita ini, tapi sekalipun dia gak pernah ngerti. Selama ini aku coba untuk sabar, tapi kalo seperti ini terus aku bisa gila dibuatnya. Mau aku putusin tapi aku gak tega... dia sangat sayang sama aku. Bahkan dia pernah bilang dia rela mati untukku. Hasssssh... gila!!”
“Oh ya?? Kalau begitu apa dia gak cemburu juga sama aku Ka??” tanyaku pada Raka.
“Dia gak tahu tentang kamu, jadi ya dia gak cemburu...” jawab Raka enteng. “Kamu sendiri, kapan mau putus sama Adit??”
“Apa??” aku kaget dengan pertanyaan Raka.
“Kamu kapan putus sama Adit??” Raka mengulangi pertanyaannya.
“Gila kamu Ka..” jawabku sambil tersenyum simpul.
“Kenapa?? Bukankah kamu sekarang lagi gak harmonis juga sama dia???”
“iya sih.. tapi aku sayang sama dia. Lagipula keadaan seperti ini pasti berubah kok....”
Lalu sesaat kita terdiam.
“Jadi... kamu gak mau mutusin Adit??” Raka mengulang pertanyaannya lagi
“Aku gak tahu....” jawabku singkat.
“Kalau begitu aku bakal nunggu...” ujar Raka sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok.
“Maksud kamu??” tanyaku gak ngerti.
“Aku suka sama kamu...” kata Raka tiba-tiba.
“Apa???” tanyaku kaget mendengar perkataan Raka.
“Emang kamu gak merasakan kalo hubungan kita itu spesial Kay...??” matanya menatap mataku.
Melihat dia menatapku seperti itu aku menjadi salah tingkah. Kupalingkan wajahku.
“Kenapa diam?? Aku sayang kamu Kay...”
“Kenapa bisa begitu?? Bukankah kamu punya Nessa, dan aku punya Adit??” jawabku sekaligu bertanya.
“Seberapa sayang kamu sama Adit?” tanya Raka.
“sebesar bumi mungkin...” jawabku asal.
“Kalau begitu ijinkan aku untuk menjadi orang yang kau sayangi yang bukan hanya sebesar bumi saja, tapi juga seluas langit, sedalam lautan, dan seindah pelangi.”
Aku kaget.
“Apa??” tanyaku melongo.
“Kita coba untuk menjalani hubungan yang lebih baik dari ini Kay.. aku sayang banget ma kamu.”
Dengan sejurus dia merengkuh tubuhku kedalam pelukannya. Dan itulah awal hubungan terlarang antara aku.. dan Raka...
Dan sekarang sudah saatnya untukku mengakhiri semuanya. Setelah aku banyak berpikir tentang hubunganku dengan Adit, dan hubunganku dengan Raka. Menjalani hubungan dengan Raka yang seperti ini aku merasa sudah sangat berdosa kepada Adit yang setia kepadaku. Aku sudah mengkhianati Adit, dan aku gak mau bila harus terus menyakiti Adit seperti ini. Selain itu, dengan menjalani hubungan yang seperti ini bersama Raka secara tidak langsung aku juga telah menyakiti Raka. Pasti dia sangat sakit saat melihat aku sedang bersama Adit. Dan tidak selamanya juga dia akan bisa terus menjadi yang kedua buatku. Aku sudah gak sanggup lagi menjalani dua cinta seperti ini.
Aku menyadari perbuatanku untuk menjalin cinta dengan Raka seperti ini sangat bodoh. Kenapa aku bisa seperti ini?? Mengecewakan Adit sementara dia gak pernah sekalipun mengecewakan aku. Aku telah mengkhianatinya sementara sekarang Adit sedang berjuang dengan kariernya untuk masa depannya bersamaku. Aku telah bersenang-senang dibelakangnya sementara sekarang dia sedang melawan kerasnya kehidupan Ibu kota demi aku. Aku sangat bersalah terhadap Adit. Juga terhadap Raka yang kusadari telah menjadi pelampiasan sesaatku. Dan juga terhadap Nessa.
“Kay....kenapa diam???” Panggilan Raka telah membuyarkan lamunanku tentang awal hubungan terlarang ini terjalin.
Kutatap wajah Raka yang tidak kupungkiri bahwa dia memang lumayan ganteng.
“Kamu tahu betapa aku sangat menyayangimu Kay... kenapa kamu bisa bilang untuk mengakhiri semua ini???” Raka menggenggam tanganku.
“karena semakin kita lanjutkan semua ini... semakin banyak hati yang akan terluka Ka... semakin kita lanjutkan semua ini semakin aku menyakitimu, semakin aku menyakiti Adit, semakin kamu menyakiti Nessa, semakin aku sakit...” Kutatap mata Raka. Mata yang penuh dengan kasih sayang yang dulu telah berhasil menggoyahkan kesetiaanku pada Adit.
“Kay... tapi...” Genggaman Raka semakin erat.
“Raka, apa kamu mau selamanya menjadi yang kedua buat aku????¬ Apa kamu mau selalu menjadi asuransi buatku??? Sedangkan rumahku adalah Adit???” Raka terdiam mendengar kalimat perumpamaan yang aku lontarkan.
“aku telah banyak berpikir Raka... sebaiknya mulai sekarang kamu cobalah untuk mengerti perasaan Nessa. Dia pasti akan sangat terluka jika mengetahui hubungan kita ini... kita tidak bisa selamanya seperti ini Raka..”
“aku gak bisa Kay... aku....”
“Udahlah Ka...aku udah gak bisa lagi menjalani semua ini...” kulepas genggaman tangan Raka perlahan.
“Kay...aku gak bisa tanpa kamu Kay. Aku gak mau kalo gak ada kamu disamping aku.. Aku rela kay bila selamanya aku jadi yang kedua buat kamu asalkan kamu terus ada disampingku... aku rela Kay.. Pliss jangan bilang untuk mengakhiri semua ini..aku gak bisa...”
“Raka... aku mohon mengertilah... aku gak bisa seperti ini terus... aku punya Adit, kamu punya Nessa, kita udah salah Raka seperti ini.. kita sudah membohongi semuanya.. kita udah menyakiti semuanya.”
Raka menatapku semakin tajam.
“Aku mohon mengertilah Raka. Kamu gak pernah tau apa yang aku rasakan saat aku tahu kamu sedang bersama Nessa, sakit Raka. Aku tahu kamu pasti juga merasakan persaaan yang sama jika melihatku bersama Adit. Maka dari itu lebih baik kita akhiri semua ini sebelum semuanya akan menjadi semakin rumit.” Kugenggam tangan Raka mencoba untuk meyakinkan. “Aku sayang sama Adit Raka.. aku gak sanggup tanpa dia. Aku gak mungkin ninggalin dia Raka... kamu juga tahu itu. Apa kamu akan bisa terus bertahan dengan sakit yang kamu rasakan saat melihatku bersama Adit???”
Raka hanya terdiam. Wajahnya muram. Kepalanya tertunduk kebawah.
“Nessa cewek yang baik Raka. Mulai sekarang cobalah untuk bersikap lebih baik padanya. Aku tahu kamu sayang sama dia.” Kulepaskan genggaman tanganku.
“Sampai disini aja Raka. Terimakasih atas semua yang udah kamu beri selama ini ke aku.. walaupun sebentar, tapi kebahagiaan yang kamu kasih ke aku gak bakal bisa aku lupain. Bagaimanapun juga kamu pernah ada di hati ini. Bagaimanapun juga kamu telah ada di saat aku membutuhkan kamu di saat aku lelah, sedih, bosan, senang... makasih Raka...” aku mencoba tersenyum padanya walaupun sulit.
Kepalanya terangkat menatapku. Sinar matanya memancarkan kesedihan. Melihatnya aku jadi gak tega untuk meninggalkannya.
“Selamat tinggal Raka” ujarku lalu pergi meninggalkan Cafe. Meninggalkan Raka. Meninggalkan semuanya yang telah terjadi antara aku dan Raka.